- Tether merilis Wallet Development Kit (WDK) open-source agar pengembang dapat membuat dompet digital non-custodial dengan mudah dan aman.
- WDK mencakup modul DeFi, dukungan USDT dan USDT0, serta starter wallet untuk iOS dan Android yang siap digunakan.
CEO Tether, Paolo Ardoino, telah mengumumkan bahwa perusahaan akan merilis Wallet Development Kit (WDK) yang sepenuhnya open-source dalam minggu ini.
Kit ini akan hadir lengkap dengan starter wallet untuk iOS dan Android, memungkinkan pengembang membuat dompet non-custodial tanpa harus menulis ulang dari awal.
Tether will release this week WDK, the Wallet Development Kit, 100% open-source.
WDK contains also a Starter Wallet for both iOS and Android.
The Starter Wallet is a compact, fully functional showcase of how easy and quick will be for anyone to develop a complete digital assets… pic.twitter.com/n6y99yQ4zE— Paolo Ardoino 🤖 (@paoloardoino) October 14, 2025
Berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya, WDK dirancang agar fleksibel dan modular. Artinya, pengembang dapat menyesuaikan tampilan, fungsi, bahkan menambahkan fitur tambahan sesuai kebutuhan mereka.
Dalam demonstrasi yang dibagikan Ardoino, WDK ini sudah dilengkapi dukungan penuh non-custodial, opsi pencadangan mnemonic yang beragam, serta modul DeFi yang mencakup swap, lending, dan dukungan terhadap USDT dan USDT0. Dengan begitu, pengguna bisa langsung mengakses layanan keuangan terdesentralisasi tanpa perlu berpindah aplikasi.
Langkah Strategis Memperkuat Ekosistem Tether
Bagi Tether, WDK bukan sekadar proyek teknologi biasa. Ini adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat posisinya di dunia keuangan digital.
Di sisi lain, CNF sebelumnya melaporkan bahwa pada awal Oktober, Tether juga meluncurkan stablecoin USAT melalui platform Rumble. Stablecoin baru ini diposisikan untuk pasar Amerika Serikat dengan tingkat kepatuhan regulasi yang lebih tinggi, serta dukungan dari Anchorage Digital Bank.
Dompet kripto untuk USAT dijadwalkan meluncur pada akhir tahun, yang tampaknya akan memanfaatkan fondasi teknologi yang sama dengan WDK.
Langkah itu seolah menegaskan arah baru Tether dalam mengintegrasikan infrastruktur aset digital dengan skema perbankan yang diakui secara hukum.
Lebih lanjut lagi, pada awal Agustus lalu, Tether juga mengakuisisi saham minoritas Bit2Me, bursa asal Spanyol yang menjadi platform pertama di negara itu dengan status CASP (Crypto Asset Service Provider) dari regulator Uni Eropa.
Akuisisi tersebut dinilai sebagai gerbang ekspansi Tether di Eropa dan Amerika Latin—dua wilayah yang kini menjadi fokus utama pengembangan stablecoin dan layanan keuangan berbasis blockchain.
Mendorong Kebebasan Pengembang di Dunia Aset Digital
Kehadiran WDK bisa menjadi momen penting dalam demokratisasi pengembangan dompet kripto. Sebelumnya, banyak pengembang kecil kesulitan memulai karena kompleksitas keamanan dan infrastruktur backend yang rumit.
Dengan WDK, mereka hanya perlu menyesuaikan modul yang sudah ada, sehingga waktu pengembangan bisa memangkas drastis. Bukan cuma itu, pendekatan open-source juga membuka ruang bagi komunitas untuk mengaudit, memperbaiki, atau menambah fitur baru sesuai tren industri.
Namun demikian, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: keamanan. Karena WDK bersifat terbuka, setiap celah dalam kode bisa menjadi risiko jika pengembang tak berhati-hati dalam melakukan implementasi. Meski Tether menegaskan bahwa WDK telah melalui audit internal, komunitas tetap menantikan tinjauan eksternal untuk memastikan tingkat keamanannya.
