- Tether kini jadi satu-satunya entitas swasta dalam daftar 20 besar pemegang Treasuri AS.
- Posisi Tether melampaui Korea Selatan dalam kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dunia keuangan tradisional mungkin perlu mulai lebih waspada. Soalnya, Tether—perusahaan di balik stablecoin USDT—kini resmi masuk dalam jajaran 20 besar pemegang surat utang pemerintah Amerika Serikat terbesar di dunia. Yang mengejutkan, posisi mereka bahkan sudah melampaui Korea Selatan.
Sampai akhir kuartal kedua 2025, Tether dilaporkan menguasai sekitar US$127 miliar dalam bentuk obligasi Treasuri AS. Angka itu mencakup sekitar US$105,5 miliar dalam bentuk langsung dan sisanya lewat instrumen seperti repo dan dana pasar uang. Jika dibandingkan, Korea Selatan “hanya” memegang sekitar US$124 miliar.
Tether Menjadi Bukti Nyata Dominasi Kripto di Kancah Global
Kehadiran Tether sebagai satu-satunya perusahaan swasta dalam daftar top 20 pemegang Treasuri AS memberi gambaran yang cukup gamblang: pemain kripto sudah mulai ambil posisi di meja utama ekonomi global. Dan mereka tidak datang dengan tangan kosong.
Di sisi lain, CNF sebelumnya melaporkan bahwa Tether berhasil mencetak laba bersih hingga US$5,7 miliar hanya dalam enam bulan pertama tahun ini. Sumbernya? Kombinasi dari pengelolaan operasional dan aset-aset seperti emas serta Bitcoin. Ini bukan sekadar menyimpan dana, tapi juga mengolahnya dengan strategi yang cermat.
Lebih lanjut lagi, total aset perusahaan ini kini menyentuh angka US$162,6 miliar, dengan kewajiban sebesar US$157,1 miliar. Artinya, ada bantalan cadangan sekitar US$5,47 miliar yang bisa dibilang cukup nyaman, apalagi di tengah ketatnya sorotan regulator belakangan ini.
Dari Stablecoin ke Penjaga Emas dan Pemilik Utang AS
Yang menarik, langkah Tether dalam membangun cadangan juga tidak hanya fokus pada surat utang. Awal Juli lalu, kami sempat menyoroti pembangunan vault emas rahasia di Swiss—yang mereka kelola sendiri. Lokasi pastinya tidak dibuka ke publik, tapi klaimnya: ini adalah salah satu fasilitas penyimpanan emas paling aman di dunia.
Vault ini bukan sekadar pameran kekayaan. Ia berperan sebagai penopang fisik dari stablecoin XAUT, yang berbasis emas. Jadi saat mereka bilang stable, itu bukan hanya jargon.
Namun demikian, tidak semua pihak menyambut langkah Tether ini dengan suka cita. Beberapa pengamat mengkhawatirkan dampak dari konsentrasi pembelian Treasuri oleh satu entitas raksasa seperti ini. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa permintaan besar dari Tether terhadap obligasi jangka pendek bisa menurunkan imbal hasil hingga 24 basis poin.
Bagi pemerintah AS, ini bisa berarti penghematan biaya bunga tahunan sekitar US$15 miliar. Tapi bagi pasar? Efeknya bisa jauh lebih luas, tergantung siapa yang melihat.
Meski begitu, satu hal yang sulit disangkal adalah posisi Tether kini jauh dari sekadar pemain pinggiran dalam ekosistem keuangan global. Mungkin awalnya mereka dianggap “cuma” proyek stablecoin. Tapi hari ini? Mereka sudah duduk sejajar dengan negara-negara maju dalam daftar pemilik utang AS.

