- Stripe dan Paradigm meluncurkan Tempo, blockchain khusus untuk transaksi stablecoin berkecepatan tinggi dan berbasis kepatuhan.
- Tempo mendukung fitur penting seperti batch transfer, biaya stablecoin, dan kompatibilitas penuh dengan Ethereum Virtual Machine.
Stripe dan Paradigm telah membuat langkah yang bisa mengganggu zona nyaman para pemain lama di industri blockchain. Tanpa banyak basa-basi, mereka memperkenalkan Tempo, sebuah blockchain yang memang sengaja dibangun dari nol untuk satu hal saja: pembayaran stablecoin.
Meskipun masih dalam tahap private testnet, geliatnya langsung terasa. Stripe tak hanya bermain-main—mereka membentuk tim khusus dan menunjuk Matt Huang, tokoh utama dari Paradigm, untuk memimpin proyek ini.
Introducing @tempo
A payments-first blockchain incubated by Stripe and Paradigm
— Matt Huang (@matthuang) September 4, 2025
Mereka benar-benar ingin membuat blockchain yang bisa dipakai untuk kebutuhan dunia nyata seperti penggajian, transfer antarnegara, hingga pembayaran otomatis oleh AI. Ya, AI pun dikasih jatah main.
Tempo menjanjikan kecepatan hingga 100.000 transaksi per detik (TPS) dengan penyelesaian instan. Tapi itu belum cukup buat mereka. Biaya transaksi di jaringan ini bisa dibayar langsung dengan stablecoin, tanpa perlu repot punya token asli jaringan.
Mekanismenya disediakan lewat Automated Market Maker (AMM) internal yang netral, alias tak memihak siapa-siapa. Jadi, tak perlu pusing konversi koin hanya untuk bayar gas fee.
Yang bikin proyek ini makin terasa serius adalah keikutsertaan sederet mitra desain yang bukan kaleng-kaleng. Ada Visa, Deutsche Bank, Shopify, Nubank, Revolut, Standard Chartered, sampai OpenAI.
Stripe tampaknya tahu betul bahwa untuk membuat blockchain yang benar-benar dipakai di dunia nyata, mereka butuh masukan dari para pemain utama industri keuangan dan teknologi.
Tempo: Dirancang Serius untuk Kebutuhan Tradisional
Tempo bukan cuma soal kecepatan. Mereka juga menyisipkan fitur-fitur teknis yang memang dibutuhkan oleh pengguna institusional.
Misalnya, dukungan batch transfers, memo transaksi yang kompatibel dengan ISO 20022, dan sistem kontrol kepatuhan seperti whitelist dan blacklist. Di sinilah bedanya dengan jaringan lain yang umumnya hanya fokus ke transaksi ritel atau spekulasi pasar.
Blockchain ini dibangun di atas Reth, salah satu klien eksekusi Ethereum. Artinya, Tempo tetap bisa menjalankan aplikasi berbasis EVM tanpa perlu migrasi besar-besaran.
Namun demikian, mereka tetap merancang arsitekturnya agar bisa bergerak menuju desentralisasi penuh. Dalam jangka panjang, validator jaringan akan dibuka secara publik alias permissionless.
Di sisi lain, Stripe juga tak malu-malu menunjukkan keseriusannya dengan mengakuisisi Bridge—platform stablecoin lintas batas—senilai lebih dari US$1 miliar. Kalau sudah keluar duit sebanyak itu, wajar kalau ekspektasinya juga besar.
Namun bukan berarti semua orang langsung terkesima. Beberapa pengamat mempertanyakan, kenapa harus bikin chain baru? Bukankah Solana sudah cukup cepat dan efisien? Bahkan ada yang nyeletuk, “Semua fitur Tempo bisa kok dijalankan di Solana—bedanya, Solana sudah battle-tested.” Kritik seperti ini memang tidak bisa dihindari, apalagi di industri yang gampang berubah haluan.
Paradigm Tak Hanya Bangun, Tapi Juga Bersuara
Sementara proyek Tempo berjalan, Paradigm juga aktif di jalur kebijakan. Beberapa hari sebelum peluncuran Tempo, mereka menyampaikan pendapat resmi kepada task force SEC mengenai regulasi tokenisasi pasar ekuitas.
Intinya, mereka mendorong agar regulator tidak menghambat inovasi. Justru sebaliknya, menurut mereka, sudah waktunya regulator membuka pintu untuk teknologi blockchain agar pasar lebih transparan dan inklusif.
Lebih lanjut lagi, pada 19 Agustus 2025, Paradigm menyerukan kepada CFTC agar tidak melupakan ekosistem DeFi dalam aturan perdagangan kripto spot.
Mereka menekankan bahwa aturan jangan hanya berfokus pada lembaga keuangan tradisional saja, tapi juga perlu melindungi dan membuka akses bagi protokol DeFi agar tidak tersisih dalam perkembangan regulasi.

