- Strategy kembali tambahkan 4.225 BTC ke cadangan mereka sebagai bagian dari strategi akumulasi jangka panjang.
- Total kepemilikan Strategy kini tembus 601.550 BTC, memperkuat posisinya sebagai pemimpin akumulasi korporat.
Strategi gila-gilaan membeli Bitcoin tampaknya belum usai bagi Strategy. Perusahaan yang dulunya bernama MicroStrategy ini baru saja mengumumkan pembelian 4.225 BTC lagi senilai sekitar US$472,5 juta. Dengan tambahan itu, total kepemilikan mereka kini mencapai angka mencengangkan: 601.550 BTC.
Kalau dihitung rata-rata, harga beli keseluruhan berada di kisaran US$71.268 per koin. Sementara itu, harga pasar BTC sekarang sudah menembus level US$121.000—yang artinya mereka sedang duduk di atas potensi cuan lebih dari US$30 milyar. Dan ya, semuanya masih mereka pegang.

Dana untuk pembelian datang dari hasil penjualan saham reguler senilai US$330 juta, ditambah dari tiga saham preferen anyar: STRK, STRF, dan STRD. Masing-masing saham ini berkontribusi dari US$15 juta hingga US$71 juta.
Menariknya, saham STRF—yang menawarkan imbal hasil dalam bentuk dolar—diluncurkan hanya beberapa hari setelah mereka menaikkan target penawaran umum dari US$500 juta menjadi US$722 juta, pada Maret lalu. Semua dana itu, tanpa basa-basi, diarahkan ke satu tujuan: beli lebih banyak Bitcoin.
Reli Bitcoin Bikin Portofolio Strategy Melonjak Drastis
Kalau kamu sempat ngikutin laporan keuangan mereka awal tahun ini, mungkin masih ingat bagaimana mereka sempat mencatat kerugian tak terealisasi (unrealized loss) lebih dari US$6 milyar karena anjloknya harga BTC di kuartal I. Tapi cerita itu sekarang sudah berubah total.
Di laporan kuartal II, CNF mencatat bahwa nilai wajar dari portofolio Bitcoin mereka melonjak tajam—naik sebesar US$14,05 milyar hanya dalam tiga bulan. Dan yang paling menarik? Mereka nggak jual satu pun BTC. Semua lonjakan itu murni karena reli harga di pasar. Bayangkan kalau itu adalah aset rumah atau tanah yang tiba-tiba nilainya meroket—bedanya, ini digital, dan lebih cepat.
Di sisi lain, strategi mereka juga cukup lihai dari sisi pendanaan. Dengan mekanisme at-the-market (ATM), mereka bisa menghimpun modal besar tanpa perlu menjual kepemilikan besar atau berutang secara tradisional.
Bahkan, dengan saham preferen seperti STRF yang menyasar investor institusional, mereka bisa menggaet pemilik modal besar yang ingin cuan dolar tanpa harus memegang BTC secara langsung. Cukup pegang sahamnya, dan nikmati hasilnya.
Sementara itu, pemegang saham MSTR tetap mendapat eksposur terhadap performa Bitcoin secara penuh. Kombo ini kelihatannya dirancang buat menjaring investor dari dua dunia: yang pro-kripto, dan yang tetap nyaman di jalur lama.
Lebih lanjut lagi, dari sudut pandang pasar, akumulasi masif seperti ini bisa dibilang menambah tekanan ke sisi pasokan. Sekali BTC masuk ke neraca perusahaan, nyaris mustahil kembali ke pasar dalam waktu dekat.
Kalau banyak perusahaan mulai meniru pola ini—dan itu bukan sesuatu yang tak mungkin—pasar bisa menghadapi kondisi di mana permintaan naik terus tapi pasokan makin seret. Di titik itu, tekanan harga bisa datang dari dua arah: investor ritel yang panik beli, dan institusi yang serakah menambah posisi.
Namun demikian, tidak semua pelaku pasar melihat aksi ini sebagai sinyal positif mutlak. Ada juga yang khawatir konsentrasi kepemilikan seperti ini bisa bikin harga makin volatil.

