- Senator Bam Aquino usulkan pencatatan anggaran negara Filipina ke blockchain untuk transparansi publik.
- Sistem DBM berbasis Polygon sudah mencatat sebagian dokumen keuangan secara on-chain.
Langkah mengejutkan datang dari Manila Tech Summit pekan ini. Senator Filipina Bam Aquino mengusulkan agar seluruh anggaran nasional dicatat di blockchain. Ya, semua pengeluaran, setiap transaksi, bahkan lembaran demi lembaran dokumen anggaran—bisa ditelusuri langsung oleh rakyat, secara real-time, dan tanpa sensor.
Dalam pidatonya, Aquino tidak berbasa-basi. Ia menyebut bahwa belum ada negara yang cukup “nekat” untuk membuka isi dapurnya secara on-chain. Tapi menurutnya, justru itulah bentuk tertinggi dari akuntabilitas. Dan kalau ada negara yang bisa mulai lebih dulu, kenapa bukan Filipina?
Usulan itu memang belum dibungkus jadi RUU, tapi ia memastikan prosesnya segera dimulai dalam beberapa minggu ke depan. Apakah bakal lancar? Belum tentu. Tapi setidaknya pintunya sudah dibuka, dan publik mulai melihat kemungkinan bahwa keuangan negara bisa transparan tanpa harus tunggu audit tahunan yang berbelit.
Philippine Senator Bam Aquino proposed at the Manila Tech Summit to put the national budget on-chain so citizens can trace government spending. The plan would expand on the DBM’s current blockchain platform, which already records some financial documents on Polygon.…
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) August 28, 2025
Teknologi Sudah Siap, Tinggal Keberanian Politik
Apa yang diusulkan Aquino sebenarnya bukan mimpi kosong. Filipina ternyata sudah memiliki sistem berbasis blockchain untuk pencatatan dokumen keuangan tertentu. Departemen Anggaran dan Manajemen (DBM) bekerja sama dengan BayaniChain dan Prismo, telah menjalankan sistem pencatatan dokumen seperti SARO dan NCA di jaringan Polygon.
Artinya, infrastrukturnya sudah ada. Tinggal diperluas saja cakupannya agar bisa merangkul keseluruhan alokasi APBN. BayaniChain sendiri mendukung wacana ini, meski mereka menegaskan tidak terlibat secara politik. CEO mereka bahkan bilang, blockchain memang bukan alat ajaib untuk menghapus korupsi, tapi kalau setiap transaksi bisa dilacak publik, pejabat bakal pikir dua kali sebelum bermain-main.
Lebih lanjut lagi, langkah ini menempatkan Filipina sejalan dengan tren global. Di Amerika Serikat, pemerintah mulai merancang penerbitan data ekonomi makro di blockchain. Estonia dan Singapura sudah lebih dulu mengadopsi teknologi serupa untuk efisiensi layanan publik. Jadi, usulan Aquino tidak berdiri sendirian di panggung internasional.
Namun demikian, tantangan di lapangan tidak bisa diremehkan. Butuh dukungan legislatif, pemahaman masyarakat, dan integrasi teknologi ke seluruh instansi. Tapi hei, siapa bilang revolusi teknologi itu selalu mulus? Kadang harus mulai dari satu orang yang cukup keras kepala untuk bilang, “ayo kita coba.”
Sinyal Serius: Filipina Bukan Cuma Ngomong
Yang bikin menarik, Filipina akhir-akhir ini memang menunjukkan sinyal kuat soal adopsi teknologi berbasis blockchain dan aset digital. Di sisi lain, pada Januari lalu, CNF melaporkan peluncuran stablecoin PHPX yang digerakkan oleh teknologi DLT dari Hedera.
Kolaborasi ini melibatkan beberapa bank lokal seperti Cantilan Bank, Rural Bank of Guinobatan, RCBC, dan UnionBank. Tujuannya jelas: pengiriman uang lintas wilayah yang cepat, murah, dan bisa dilakukan tanpa infrastruktur perbankan tradisional.
Bukan cuma itu, akhir Juli lalu, Grab Filipina mengumumkan bahwa pengguna kini bisa isi saldo GrabPay langsung pakai Bitcoin, Ethereum, USDT, atau USDC. Fitur ini didukung oleh Triple-A dan PDAX, dan diluncurkan demi mendorong inklusi keuangan serta penggunaan kripto dalam aktivitas harian.
Semua ini memperlihatkan bahwa negeri ini tidak cuma sibuk bicara soal “potensi blockchain,” tapi sudah mulai membangun ekosistem yang konkret. Dan kalau usulan Senator Aquino bisa menyatu dengan tren tersebut, mungkin kita bakal lihat momen langka: pemerintah yang benar-benar bisa diawasi publik setiap detiknya.
Karena, jujur saja, berapa banyak dari kita yang tahu ke mana perginya uang pajak selama ini? Kalau jawabannya “enggak tahu,” mungkin saatnya blockchain kasih kita jawaban.

