- SBI resmi ajukan dua ETF kripto pertama di Jepang, menyertakan XRP dan Bitcoin dalam satu instrumen teregulasi.
- Salah satu ETF menggabungkan lebih dari 50% asetnya ke emas dan sisanya ke Bitcoin dan XRP.
SBI Holdings kembali mencuri perhatian pasar keuangan Jepang dengan langkah barunya, mengajukan dua Exchange-Traded Fund (ETF) yang berfokus pada aset kripto.
Yang pertama adalah ETF dengan eksposur langsung ke Bitcoin dan XRP. Sementara yang kedua, agak unik, menggabungkan aset digital dengan emas, dan disebut-sebut punya porsi lebih dari 50% pada ETF emas. Ya, bisa dibilang ini semacam perpaduan antara kripto dan ketenangan batin ala safe haven klasik.
Dua ETF Kripto Baru Siap Ramaikan Bursa Jepang
ETF pertama diberi nama Crypto-Assets ETF dan dirancang untuk memberikan akses langsung ke dua kripto populer: Bitcoin dan XRP. Satu ETF, dua aset, satu klik di bursa, gambaran yang pasti menarik bagi investor Jepang yang selama ini agak terbatas dalam pilihan investasi kripto secara teregulasi.
Sementara itu, ETF kedua diberi label Digital Gold Crypto ETF, dan bisa dibilang ini cocok untuk investor yang ingin sensasi kripto tapi tetap bisa tidur nyenyak karena sebagian besar dananya ditanam di emas.
Yang bikin ini lebih dari sekadar rencana kosong, adalah kenyataan bahwa semua dokumen pengajuan telah diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA). Jika disetujui, ini bisa jadi ETF pertama di Jepang yang memuat XRP secara resmi.
Mengingat sejarah panjang SBI dengan Ripple, ini bukan langkah kejutan, tapi lebih mirip kelanjutan strategi jangka panjang yang akhirnya mulai menunjukkan wujud konkret di bursa Jepang.
Jejak Ganda SBI: Dorong USDC, Tinjau Ulang Investasi Lama
Kalau dilihat dari luar, SBI memang tampak makin serius membenamkan dirinya ke dunia kripto. Di bulan Maret, CNF mencatat bahwa mereka menggandeng Circle—perusahaan di balik stablecoin USDC—untuk membentuk Circle Japan KK.
Lewat kolaborasi ini, stablecoin USDC akan mulai didistribusikan secara resmi di Jepang melalui SBI VC Trade. Mereka ingin meningkatkan akses terhadap stablecoin, dan tentu saja, memperluas pemanfaatan teknologi blockchain untuk sistem keuangan yang lebih modern.
Namun demikian, tak semua langkah SBI tahun ini berbentuk ekspansi. Di sisi lain, awal April lalu, CNF juga melaporkan bahwa salah satu anak usaha mereka sedang mempertimbangkan untuk melepas sebagian kepemilikan minoritas di B2C2, market maker kripto yang sebelumnya mereka akuisisi hampir penuh. Apakah ini bentuk realokasi sumber daya ke arah yang lebih strategis seperti ETF? Bisa jadi.
Yang menarik, walau berita pengajuan ETF ini cukup bombastis, pasar bereaksi cukup dingin. Harga XRP justru sempat turun lebih dari 5% sesaat setelah pengumuman mencuat. Beberapa analis menilai ini efek klasik “sell the news”—di mana antusiasme yang sudah dibangun sejak lama malah berujung aksi ambil untung saat momen tiba.
Tapi kalau dilihat dari sisi teknikal, beberapa pengamat tetap optimis dan menyebut bahwa XRP sedang membentuk pola kenaikan yang menjanjikan. Bahkan, ada yang menyebut target rebound di angka US$4,66 sebelum akhir tahun. Terlalu ambisius? Mungkin. Tapi pasar kripto kan memang suka kejutan.
Lebih lanjut lagi, keberadaan ETF yang menyertakan XRP bisa membuka pintu baru bagi investor ritel maupun institusional di Jepang yang selama ini menunggu jalur resmi untuk masuk ke pasar kripto.
Ditambah dengan struktur pajak ETF yang lebih ramah dibandingkan dengan kepemilikan langsung aset digital, daya tariknya jelas terasa. Pajak penghasilan dari kripto bisa mencapai 55%, sementara ETF hanya dikenakan pajak keuntungan modal sekitar 20%.

