- Remixpoint Jepang meningkatkan kepemilikan Bitcoin hingga mencapai total 1.273 BTC.
- Perusahaan publik ini mengintegrasikan strategi energi dengan akumulasi aset digital.
Perusahaan publik asal Jepang, Remixpoint, kembali menjadi perbincangan usai membeli tambahan 41,5 Bitcoin senilai sekitar US$4,6 juta. Langkah ini membuat total simpanan BTC mereka kini menyentuh angka 1.273 unit.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan yen, perusahaan ini tampaknya makin mantap menjadikan Bitcoin sebagai salah satu pilar utama aset mereka.
JUST IN: 🇯🇵 Publicly traded Remixpoint buys another 41.5 $BTC worth $4.6 million. pic.twitter.com/hXMw5hxvra
— Whale Insider (@WhaleInsider) August 25, 2025
Remixpoint Gabungkan Energi dan Kripto Sekaligus
Aksi ini bukan kejutan besar, mengingat perusahaan yang bergerak di sektor energi tersebut sudah mulai mengakumulasi Bitcoin sejak tahun lalu. Yang menarik, Remixpoint nggak cuma beli lalu disimpan. Mereka juga mulai menjajaki layanan energi khusus untuk penambang Bitcoin.
Strategi yang terdengar teknis tapi sebenarnya cukup sederhana: gabungkan bisnis utama mereka dengan aset kripto yang makin banyak peminatnya. Kalau berhasil, itu seperti menembak dua target sekaligus.
Langkah terbaru ini juga melanjutkan rangkaian pembelian sebelumnya. Juni lalu, Remixpoint mengantongi 44,8 BTC, lalu Mei mereka menambah 32,83 BTC. Bahkan di laporan internal yang bocor ke publik, perusahaan ini kabarnya punya rencana memperbesar alokasi kripto hingga ¥12 milyar—yang kalau dirupiahkan, ya… banyak banget. Dari semua ini, satu hal jadi jelas: mereka bukan hanya coba-coba.
Strategi Institusi Jepang Semakin Berani
Di sisi lain, perusahaan Jepang lain yang jauh lebih agresif juga terus jadi sorotan. CNF pada 12 Agustus lalu mencatat bahwa Metaplanet, yang awalnya hanya memiliki 518 BTC, kini sudah menggenggam lebih dari 18.000 Bitcoin.
Jumlah itu membuat Metaplanet jadi salah satu pemegang BTC terbesar di dunia versi institusi. Bahkan beberapa pengamat menyebut langkah mereka sebagai “versi Jepang-nya Strategy” — walau mungkin skalanya belum sejauh itu, tapi arahnya jelas mirip.
Lebih lanjut lagi, tren akumulasi ini bukan cuma terjadi di Jepang. Juli lalu, kami menyoroti MARA Holdings yang menerbitkan obligasi konversi tanpa bunga. Tujuannya jelas: memperbesar tumpukan Bitcoin mereka. Hasilnya? Sudah lebih dari 50.000 BTC dikumpulkan.
Dan mereka tidak diam saja—aset itu juga dimanfaatkan lewat strategi lending, dengan imbal hasil yang diklaim mencapai 5% sampai 9%.
Kembali ke Remixpoint, strategi mereka memang belum sebesar dua institusi tadi, tapi arahnya mulai jelas. Dengan harga rata-rata pembelian sekitar US$101.208 per BTC, nilai total kepemilikan mereka saat ini berada di kisaran US$141 juta. Dan kalau melihat harga pasar sekarang, mereka duduk manis di posisi untung sekitar 9 persen. Tidak besar memang, tapi jelas bukan main-main.
Namun demikian, akumulasi agresif seperti ini tetap punya risiko. Apalagi jika volatilitas pasar kembali menggila seperti awal tahun lalu. Tapi mungkin bagi perusahaan seperti Remixpoint, risiko itu sudah diperhitungkan matang-matang. Atau… ya, mungkin mereka hanya mengikuti arus besar institusi global yang makin nyaman menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari neraca.

