- Nilai tokenisasi RWA kini tembus US$30 miliar, naik 125 persen dibanding tahun lalu.
- Infrastruktur institusional masih lemah, dari kustodian regulasi hingga likuiditas pasar sekunder.
Nilai tokenisasi aset dunia nyata (RWA) akhirnya melampaui angka US$30 miliar, naik 125 persen dibanding tahun lalu. Angka tersebut menegaskan betapa cepatnya pertumbuhan sektor ini, apalagi hanya tahun lalu nilainya masih separuh dari posisi sekarang.
Lonjakan besar didorong terutama oleh tokenisasi surat utang pemerintah Amerika Serikat yang dibawa ke blockchain, di mana BlackRock melalui BUIDL Fund berhasil mengelola lebih dari US$1,7 miliar aset dalam bentuk token. Pertanyaan pun muncul: apakah lonjakan ini cukup kuat untuk benar-benar memikat institusi besar?
Infrastruktur Masih Belum Sejalan dengan Harapan Institusi
Meski angka pasar sudah mengesankan, banyak platform tokenisasi masih menghadapi kelemahan mendasar. Salah satu masalah utama adalah pemisahan kepemilikan aset yang belum jelas. Banyak proyek masih mengandalkan dompet bersama, membuat investor khawatir soal perlindungan hukum jika platform mengalami masalah.
Di sisi lain, tidak semua platform menggunakan kustodian teregulasi yang diakui institusi besar, sehingga keraguan soal keamanan aset tetap ada. Tambah lagi, proteksi asuransi atas potensi kerugian masih jarang tersedia, padahal hal ini sangat krusial bagi lembaga yang terbiasa dengan standar keuangan tradisional.
Lebih lanjut lagi, audit waktu nyata yang sebenarnya bisa menjadi nilai tambah dari teknologi blockchain ternyata belum banyak diterapkan. Transparansi memang ada, tetapi belum sepenuhnya memenuhi syarat audit yang sesuai kebutuhan institusi besar. Regulasi juga menjadi hambatan serius.
Perbedaan aturan di setiap yurisdiksi membuat investor institusi sulit bergerak leluasa. Alhasil, meski pasar RWA sudah besar, belum sepenuhnya menjadi magnet bagi dana besar Wall Street.
Namun demikian, upaya untuk memperbaiki ekosistem terus dilakukan. Standar teknis baru bernama ERC-7943 hadir untuk menjawab kebutuhan kepatuhan, modularitas, dan interoperabilitas yang lebih dekat dengan dunia institusi. Kehadiran standar ini bisa menjadi titik balik jika benar-benar diadopsi luas, karena investor besar biasanya hanya mau masuk jika infrastruktur benar-benar kokoh.
Dinamika di Balik Pertumbuhan RWA
Di luar masalah infrastruktur, ada cerita lain yang membuat pasar RWA semakin menarik. CNF melaporkan bahwa pada Maret lalu, zkSync Era melonjak hingga 953,79% hanya dalam 30 hari, menjadikannya blockchain terbesar kedua untuk RWA dengan total US$2,03 miliar.
Ethereum tetap memimpin dengan US$4,12 miliar, tetapi kebangkitan zkSync menunjukkan bahwa solusi Layer-2 dengan insentif dan dukungan institusional bisa menggeser peta kekuatan. Bukankah menarik bahwa pemain baru bisa mendekati Ethereum dalam waktu singkat?
Bukan cuma itu, Februari lalu platform analitik sosial LunarCrush mencatat Chainlink (LINK), Avalanche (AVAX), dan VeChain (VET) sebagai koin RWA dengan keterlibatan sosial paling tinggi. Aktivitas sosial seperti komentar, like, hingga share melonjak drastis, didorong partisipasi komunitas dan akun berpengaruh.
Data ini memperlihatkan bahwa di balik infrastruktur yang belum sempurna, ada antusiasme komunitas yang justru menjadi motor penggerak adopsi. Bagaimana pun, suara komunitas sering kali berperan besar dalam mengangkat narasi sebuah sektor.
Jika ditarik garis besar, pasar RWA berada di persimpangan. Di satu sisi, nilainya terus naik dan menarik perhatian institusi besar, ditandai dengan langkah BlackRock maupun Fidelity yang ikut merilis produk berbasis tokenisasi.
Di sisi lain, kelemahan struktural—mulai dari kustodian, kepastian hukum, hingga likuiditas pasar sekunder—masih menjadi penghalang masuknya modal lebih besar.
Ke depan, hanya platform dengan kepatuhan terintegrasi, audit yang jelas, serta kustodian institusional yang berpotensi membawa RWA ke tahap berikutnya. Meski tantangan besar menanti, momentum yang ada sulit diabaikan.

