- MUFG tokenisasi gedung pencakar langit Osaka untuk investor ritel dan institusi lewat platform blockchain.
- Platform Progmat dipakai untuk fractional ownership properti, membuka akses luas bagi investor kecil.
MUFG, bank terbesar di Jepang, telah mengakuisisi sebuah gedung pencakar langit di pusat Osaka dengan nilai lebih dari 100 miliar yen, lalu mengumumkan bahwa properti ini akan ditokenisasi.
Ya, bukan disewakan atau dijual secara tradisional, tapi ditawarkan dalam bentuk token digital yang bisa dimiliki oleh investor ritel maupun institusi. Yang ritel bisa ikut lewat platform blockchain bernama Progmat, sementara pihak institusional disasar lewat struktur private REIT.
JUST IN: 🇯🇵 MUFG, Japan’s largest bank to tokenize real estate for retail and institutional investors. pic.twitter.com/N0JnpdXq9L
— Whale Insider (@WhaleInsider) July 27, 2025
MUFG Buka Jalan Baru Investasi Properti Lewat Token Digital
Yang bikin langkah ini terasa cukup berani adalah karena MUFG tak sekadar bereksperimen. Mereka benar-benar memanfaatkan anak perusahaannya, Mitsubishi UFJ Trust and Banking, sebagai pengelola resmi. Ada aset nyata, bernilai besar, dan dipersiapkan untuk dibagi dalam bentuk token kepemilikan. Dan jelas, ini bukan properti remeh. Lokasi strategis, nilai tinggi, dan disiapkan untuk menghasilkan pendapatan rutin.
Lebih lanjut lagi, untuk kalangan ritel yang selama ini hanya bisa bermimpi punya sebagian dari gedung semacam ini, tokenisasi membuka jalan baru. Dengan jumlah dana yang jauh lebih kecil dari harga properti sebenarnya, mereka tetap bisa punya “porsi” aset ini.
Melalui Progmat, platform yang 42%-nya dimiliki oleh MUFG, kepemilikan bisa dipecah menjadi unit-unit kecil berbasis blockchain. Transaksi jadi lebih transparan, dan siapa pun bisa ikut berpartisipasi.
Pasar Token Properti Jepang Masih Kecil, tapi Terus Bergerak
Tentu saja, pasar token properti di Jepang belum bisa dibilang ramai. Sampai sekarang, total penerbitan sekuritas digital sejak 2021 baru menyentuh angka 194 miliar yen, dan mayoritas masih berkisar di sektor real estat. Bahkan di Osaka Digital Exchange, baru ada enam token properti yang aktif diperdagangkan.
Volume bulanannya pun masih malu-malu—sekitar 23 juta yen. Tapi tetap saja, gerakan ini terus bertumbuh. Apalagi dengan masuknya pemain besar seperti MUFG, sentimen kepercayaan bisa ikut terdongkrak.
Di sisi lain, CNF juga mencatat bahwa pada pertengahan Juli lalu, GATES dan Oasys ikut mendorong ekosistem yang sama. Mereka mulai melakukan tokenisasi properti produktif senilai US$75 juta di tengah kota Tokyo.
Proyek ini bahkan menyasar pasar internasional dengan membuka akses investor global lewat jaringan blockchain Oasys. Target jangka panjang mereka juga cukup ambisius—ekspansi hingga menyentuh US$200 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Jadi bukan cuma MUFG yang serius membenahi wajah investasi properti dengan pendekatan digital.
Namun demikian, persaingan tetap ada. Mitsui Digital Asset Management misalnya, sempat memanfaatkan struktur trust milik MUFG, tapi kini membentuk trust-nya sendiri, Alterna Trust.
Meski begitu, hubungan mereka dengan Progmat masih berjalan, jadi kerja sama tidak benar-benar putus. Artinya, meskipun ada dinamika dalam kepemilikan teknologi, mereka tetap saling terhubung di ekosistem tokenisasi yang sedang dibentuk.
Menariknya lagi, langkah-langkah semacam ini juga mendapat angin segar dari sisi regulasi. Pemerintah Jepang pada Juni lalu telah memperkenalkan lisensi baru untuk entitas crypto intermediary. Aturan baru ini lebih ringan dibanding bursa aset digital biasa.
Tapi jangan salah, ada juga sisi pengamannya. Pemerintah punya wewenang memerintahkan agar aset pengguna disimpan di dalam negeri demi mengurangi potensi risiko luar negeri—langkah yang cukup masuk akal, apalagi dengan makin banyaknya aset asing yang mulai tokenisasi di Jepang.

