- Morgan Stanley sarankan alokasi kripto hingga 4% untuk portofolio berisiko tinggi.
- Portofolio konservatif disarankan tidak memiliki eksposur pada aset kripto.
Morgan Stanley melalui Global Investment Committee (GIC) menyoroti aset kripto dalam laporan terbaru mereka.
Rekomendasinya cukup tegas: investor dengan profil pertumbuhan oportunistik disarankan menempatkan alokasi kripto maksimal 4% dari total portofolio. Bagi investor dengan pendekatan risiko menengah, angka yang dianjurkan lebih rendah, sekitar 2%.
Namun, untuk portofolio dengan tujuan menjaga kekayaan atau pendapatan tetap, kripto sama sekali tidak disarankan karena volatilitas yang masih tinggi.
This is huge.
New Special Report from Morgan Stanley GIC:
"we aim to support our Financial Advisors and clients, who may flexibly allocate to cryptocurrency as part of their multiasset portfolios."
GIC guides 16,000 advisors managing $2 trillion in savings and wealth for… pic.twitter.com/RBWFxlRNkS
— Hunter Horsley (@HHorsley) October 5, 2025
Di sisi lain, lembaga ini menekankan pentingnya disiplin dalam melakukan rebalancing. Penyesuaian kembali porsi portofolio secara berkala—baik kuartalan atau minimal tahunan—dinilai penting agar eksposur kripto tidak membesar berlebihan saat harga naik tajam.
Peringatan ini sejalan dengan pandangan Morgan Stanley bahwa kripto masih termasuk aset spekulatif yang mudah terombang-ambing kondisi makro. Menariknya, mereka juga menganggap Bitcoin layak dipandang sebagai “emas digital,” masuk kategori real assets yang bisa melengkapi portofolio.
Regulasi Global Mulai Bergeser
Lebih lanjut lagi, perkembangan kebijakan di berbagai negara memberi warna tambahan pada diskusi ini. CNF sebelumnya mencatat bahwa otoritas Inggris, yaitu FCA, telah berencana mencabut larangan crypto exchange-traded notes (cETNs) pada Juni lalu. Tujuannya agar investor ritel bisa berpartisipasi di bursa yang diakui.
Meski begitu, Inggris tidak serta-merta membuka pintu lebar-lebar. Mereka tetap menjaga perlindungan lewat aturan promosi yang ketat dan membatasi akses ke produk derivatif yang terlalu kompleks.
Bukan cuma itu, Rusia juga bergerak dengan cara berbeda. Pada awal Juni lalu, Sberbank meluncurkan obligasi berbasis Bitcoin yang hanya bisa diakses investor terakreditasi. Skema ini memungkinkan pembelian tanpa perlu dompet kripto atau platform luar negeri, suatu pendekatan yang cukup unik.
Lebih lanjut lagi, pemerintah Rusia memperluas pemanfaatan aset digital untuk ekspor gandum dan perdagangan minyak. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan internasional dan menghindari tekanan sanksi Barat.
Morgan Stanley Tekankan Batas Aman Dalam Alokasi Kripto
Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa Morgan Stanley tetap berhati-hati. Mereka menilai meski kripto bisa memberi diversifikasi, ada risiko korelasi dengan aset lain saat pasar sedang bergejolak.
Artinya, investor tidak bisa menganggap kripto sebagai pelindung sempurna dari guncangan global. Batas alokasi 4% yang mereka anjurkan mencerminkan keseimbangan antara mengakui potensi dan menjaga risiko tetap terkendali.
Secara tidak langsung, rekomendasi ini juga memberi sinyal bahwa adopsi kripto makin masuk arus utama. Ketika bank besar seperti Morgan Stanley menyarankan porsinya, walau kecil, artinya ada pengakuan terhadap peran aset digital di portofolio modern. Namun, investor tetap dituntut bijak.
Dengan kata lain, kripto bukan instrumen yang cocok untuk semua orang. Bagi sebagian orang, 4% mungkin terasa kecil, tapi untuk portofolio yang besar, persentase ini bisa bernilai jutaan dolar.

