- Mastercard menilai kripto sebagai teknologi pembayaran, bukan revolusi, dengan fokus utama pada keamanan dan kepatuhan.
- Stablecoin dipandang berguna untuk pembayaran lintas batas, namun tidak bisa menggantikan perlindungan konsumen tradisional.
Christian Rau, Head of Crypto Mastercard untuk Eropa, mengatakan bahwa perusahaannya tidak pernah melihat aset digital sebagai revolusi keuangan, melainkan sebagai teknologi yang bisa memperkuat sistem pembayaran yang sudah ada.
Rau menekankan bahwa misi utama Mastercard tetap sama selama puluhan tahun, yaitu memastikan orang bisa membayar dan bisnis bisa menerima pembayaran dengan cara yang aman serta sesuai aturan. Pernyataan ini cukup tegas, seolah ingin memberi sinyal bahwa Mastercard tidak ikut larut dalam euforia yang sering kali menyelimuti industri kripto.
Mastercard’s Head of Crypto for Europe, Christian Rau, said the company views crypto as a potential payment technology rather than a revolution, with its strategy focused on “safe and compliant payments.” He noted stablecoins can improve cross-border settlements but cannot…
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) September 2, 2025
Stablecoin Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti
Rau juga menyoroti fenomena stablecoin. Ia menyadari bahwa volume transaksinya kini bahkan lebih besar daripada volume Mastercard sendiri. Namun, menurutnya, stablecoin lebih tepat dipandang sebagai alat penyelesaian transaksi lintas batas.
Teknologi ini bisa mempercepat transfer dana internasional atau mengurangi risiko nilai tukar, tetapi tidak bisa menggantikan layanan perlindungan konsumen yang selama ini menjadi andalan jaringan pembayaran tradisional. Rau mencontohkan, dalam kasus sengketa atau penipuan, layanan Mastercard tetap menyediakan perlindungan yang tidak dimiliki stablecoin.
Bukan cuma itu, Mastercard sudah menjalin kolaborasi dengan sejumlah mitra seperti Circle, MoonPay, dan Kraken agar stablecoin dapat digunakan lebih luas.
Saat ini, stablecoin sudah bisa dipakai di lebih dari 150 juta merchant di seluruh dunia yang menerima Mastercard. Ini bukti nyata bahwa perusahaan tidak menutup diri terhadap inovasi, melainkan memilih jalan integrasi yang lebih aman dan terkontrol.
Di sisi lain, Juli lalu CNF melaporkan bahwa Mastercard menganggap GENIUS Act sebagai tonggak penting dalam mendorong adopsi stablecoin secara institusional.
Aturan tersebut memberikan kejelasan hukum sehingga perusahaan besar dapat meluncurkan stablecoin berbasis dolar dengan landasan regulasi yang jelas. Tanpa regulasi semacam itu, stabilitas penggunaan stablecoin di ranah institusional akan sulit tercapai.
Mastercard Jaga Fleksibilitas di Tengah Tekanan Inovasi Kripto
Meski stabilitas dan interoperabilitas menjadi prioritas utama, Rau tidak menutup pintu untuk membangun blockchain internal jika memang diperlukan. Untuk saat ini, Mastercard lebih mengutamakan penggunaan solusi yang sudah ada.
Namun, jika pada akhirnya tidak ada sistem yang memenuhi kebutuhan perusahaan, opsi mengembangkan jaringan sendiri bisa saja diambil. Kalimat ini mengandung nada hati-hati tapi fleksibel, menunjukkan bahwa Mastercard tidak ingin sekadar ikut tren, melainkan benar-benar menilai kebutuhan pasar.
Lebih lanjut lagi, Rau menjelaskan bahwa integrasi dengan dompet kripto memiliki tantangan berbeda.
Untuk dompet kustodian, prosesnya relatif sederhana. Akan tetapi, ketika berurusan dengan dompet non-kustodian seperti MetaMask, Mastercard memerlukan arsitektur kontrak pintar khusus yang bisa memverifikasi ketersediaan dana secara real-time sebelum transaksi disetujui. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengutamakan keamanan di atas segalanya.
Awal Juli lalu, Bitget Wallet bahkan meluncurkan kartu kripto digital tanpa biaya yang langsung terhubung dengan Apple Pay dan Google Pay.
Menariknya, kartu tersebut menggunakan jaringan Mastercard, sehingga pengguna bisa membayar dengan kripto secara real-time di jutaan merchant. Kehadiran inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana Mastercard membuka ruang bagi teknologi kripto, asalkan tetap berada dalam kerangka yang aman dan terkontrol.

