- Laba bersih Coinbase melonjak ke US$432 juta didorong peningkatan volatilitas dan lonjakan volume perdagangan kripto.
- Pendapatan transaksi naik jadi US$1,05 miliar, sementara layanan langganan tumbuh 34% ke US$746,7 juta.
Lonjakan volatilitas pasar kripto di kuartal ketiga 2025 bukan cuma bikin trader kebingungan, tapi juga jadi angin segar buat Coinbase.
Berdasarkan laporan Reuters, platform perdagangan aset digital itu telah mencetak laba bersih sebesar US$432,6 juta atau US$1,50 per saham, jauh melampaui hasil kuartal yang sama tahun lalu yang hanya US$75 juta.
Pendapatan dari transaksi meroket hingga US$1,05 miliar, naik drastis dibandingkan US$573 juta setahun sebelumnya. Perusahaan ini berhasil memanfaatkan gejolak harga aset digital sebagai pemicu naiknya aktivitas jual beli di platform mereka.
Saat harga bolak-balik naik turun seperti yoyo, para trader—baik ritel maupun institusi—berbondong-bondong kembali masuk ke pasar, dan Coinbase memungut untung dari setiap pergerakan itu.
Namun di luar angka-angka besar itu, ada pergeseran menarik. Pendapatan dari segmen langganan dan layanan juga tumbuh hingga menyentuh US$746 juta. Artinya, Coinbase mulai menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar mengandalkan bisnis spot yang penuh risiko. Mereka pelan-pelan membangun lini pendapatan baru yang lebih stabil dan tidak terlalu tergantung pada naik-turunnya harga koin.
Coinbase Dorong Inovasi Lewat AI dan Token Base
Lebih lanjut lagi, Coinbase tak tinggal diam menunggu market ramai. Pekan lalu, CNF melaporkan bahwa mereka meluncurkan Payments MCP, fitur yang memungkinkan asisten AI seperti Claude dan Gemini melakukan transaksi kripto hanya dengan perintah bahasa alami. Dengan kata lain, pengguna cukup mengetik atau bicara, lalu AI menyelesaikan transaksi.
Langkah ini sejalan dengan proyek kolaboratif mereka bersama Cloudflare lewat x402 Foundation yang mengusung misi membangun standar terbuka untuk sistem pembayaran kripto di era AI. Kalau strategi ini berhasil, Coinbase bisa menjadi salah satu pionir dalam transaksi on-chain berbasis AI, yang mungkin sebentar lagi bukan sekadar wacana.
Di sisi lain, analis di JPMorgan baru-baru ini menyebut bahwa token Base—jaringan Layer-2 yang dikembangkan oleh Coinbase—berpotensi membuka sumber pendapatan baru.
Mereka melihat kemungkinan Base memiliki token sendiri di masa depan, yang bila dikelola dengan distribusi dan adopsi yang sehat, bisa menjadi pilar pendapatan jangka panjang. Apalagi jika Base makin luas digunakan dalam ekosistem DeFi atau proyek Web3 lainnya.
Yang menarik, kinerja keuangan Coinbase di kuartal ini juga berhasil mengalahkan ekspektasi pasar. Banyak analis memperkirakan laba per saham di bawah US$1,1, namun kenyataannya jauh di atas. Kombinasi dari momentum volatilitas dan ekspansi ke sektor-sektor baru seperti AI dan derivatif tampaknya menjadi senjata rahasia perusahaan ini.
Namun demikian, bukan berarti semua aman-aman saja. Ketergantungan terhadap volatilitas tetap menyimpan risiko tersendiri. Jika pasar kembali tenang seperti kolam tanpa riak, pendapatan dari transaksi bisa anjlok dalam waktu singkat.

