- Tether meraih laba bersih US$5,7 miliar selama paruh pertama 2025 dari operasional dan aset seperti emas dan Bitcoin.
- Total pasokan USDT naik signifikan dan Tether kini jadi salah satu pemegang surat utang AS terbesar.
Laporan terbaru Tether untuk kuartal kedua 2025 menunjukkan laba bersih sekitar US$4,9 miliar. Kalau ditotal dengan kuartal pertama, perusahaan ini sudah mengantongi sekitar US$5,7 miliar hanya dalam enam bulan. Ya, benar—itu bukan total kapitalisasi proyek kecil, tapi murni laba bersih.
Tether Tak Cuma Untung, Tapi Juga Jadi Nafas Utama DeFi Global
Menariknya, sebagian besar dari jumlah itu, sekitar US$3,1 miliar, berasal dari pendapatan berulang. Sisanya, sekitar US$2,6 miliar, datang dari mark-to-market—atau bahasa sederhananya: kenaikan nilai aset seperti Bitcoin dan emas yang mereka pegang. Mereka tidak jual, tapi nilainya naik dan langsung dicatat. Tether benar-benar tahu kapan harus pegang dan kapan harus catat untung.
Di saat banyak proyek kripto pontang-panting cari dana tambahan, Tether malah menerbitkan lebih dari US$13,4 miliar USDT hanya di kuartal kedua. Total suplai mereka kini sudah tembus US$157 miliar. Angka segede itu bukan cuma prestasi, tapi juga tekanan. Dan mereka tampaknya tahu cara menanganinya.
CNF bahkan baru-baru ini menyoroti dominasi Tether yang makin gila. Sekitar 73% alamat aktif dalam transaksi stablecoin global menggunakan USDT—dan sebagian besar transaksi itu berlangsung di jaringan Tron, dengan jutaan aktivitas harian. Jadi jangan heran kalau banyak proyek DeFi bergantung sepenuhnya pada kehadiran USDT.
Langkah Mengejutkan: Hentikan Dukungan di 5 Blockchain
Namun di balik laporan laba yang menggiurkan, ada keputusan yang cukup bikin alis naik. Mulai 1 September 2025, Tether resmi memutuskan untuk mencabut dukungan stablecoin mereka di lima jaringan: Omni, Bitcoin Cash SLP, Kusama, EOS, dan Algorand. Bukan sekadar kabar burung, keputusan ini diumumkan resmi dan terdokumentasi.
Semua proses penukaran USDT di jaringan tersebut akan dihentikan total. Lebih dari itu, token yang masih berada di jaringan itu juga akan dibekukan. Jadi kalau masih ada yang nyangkut stablecoin USDT di sana, ya… bisa dibilang statusnya akan “beku selamanya.”
Agak nekat memang, tapi tampaknya langkah ini bagian dari strategi efisiensi dan konsolidasi. Tether ingin fokus pada jaringan yang benar-benar aktif dan punya volume nyata—bukan sekadar eksis tapi sepi.
Di sisi lain, laporan mereka juga menampilkan fakta menarik lainnya. Perusahaan ini kini memegang lebih dari US$127 miliar dalam bentuk surat utang pemerintah Amerika Serikat. Itu bukan jumlah recehan. Bahkan, angka itu cukup untuk menempatkan mereka di daftar teratas pemegang surat utang AS secara global.
Siapa sangka, entitas yang dulu dicibir karena masalah transparansi, sekarang duduk sejajar dengan negara dan institusi keuangan besar.
Lebih lanjut lagi, laporan ini menunjukkan bahwa dominasi Tether tidak hanya soal banyaknya koin beredar. Ini juga soal pengaruh mereka di sektor stablecoin dan bahkan di pasar keuangan yang lebih luas. Mereka bukan sekadar penerbit token, tapi juga pemain besar yang memegang aset dunia nyata dengan bobot yang cukup berat.

