- Korea Selatan mengubah perdagangan kripto menjadi ajang e-sport dengan kompetisi trading bergaya turnamen.
- Acara ini menarik generasi muda dan membuka peluang lahirnya genre e-sport baru di dunia finansial digital.
Korea Selatan sedang mencoba sesuatu yang berbeda. Trading kripto, yang biasanya dianggap penuh risiko dan serius, kini dikemas seperti pertandingan e-sport.
Berdasarkan Times Scope Journal, dalam gelaran Korea Blockchain Week, sebuah acara bertajuk Perp-DEX Day menghadirkan suasana baru. Trader bersaing di panggung layaknya atlet, lengkap dengan papan peringkat, komentator yang heboh, serta penonton yang ikut tegang setiap kali ada peserta hampir terkena liquidation.
Bukan cuma itu, formatnya bahkan terasa seperti menonton turnamen game, hanya saja yang dipertaruhkan adalah strategi dan modal di pasar kripto.
Di sisi lain, ada juga turnamen prop trading yang lebih menantang. Kompetisi ini berlangsung pada 24 September 2025 dengan gaya e-sport tetapi menggunakan modal nyata. Semua transaksi ditampilkan secara real-time, sehingga penonton bisa melihat bagaimana strategi para trader berjalan.
Tujuannya tidak semata hiburan, melainkan juga memberi transparansi dan menarik generasi muda untuk melihat trading dari sisi berbeda. Beberapa laporan bahkan menyebut volume perdagangan di ajang ini mencapai sekitar US$18,7 juta, meskipun angka tersebut masih perlu diverifikasi lebih jauh.
Saat Trading Kripto Jadi Tontonan Publik yang Bikin Deg-degan
Lebih lanjut lagi, ajang lain bernama “Criminal Trading” juga ikut digelar. Meski namanya terdengar ekstrem, sebenarnya ini hanyalah simulasi perdagangan dengan perhitungan risiko real-time.
Format ini dikemas dengan gaya panggung e-sport, di mana komentator menjelaskan strategi dan audiens mengikuti jalannya pertandingan.
Menariknya, beberapa penonton menyebut atmosfer kompetisi ini lebih menegangkan dibanding menonton laga e-sport tradisional, terutama saat posisi para trader mulai goyah.
Namun demikian, bukan hanya penonton yang terhibur. Komunitas kripto global juga sempat memperhatikan pergerakan peserta asal Korea yang kabarnya melakukan posisi short terhadap aset besar di pasar derivatif.
Bahkan di forum daring, ada yang berseloroh bahwa aksi mereka sesaat memengaruhi arah pasar. Dari sini terlihat, gagasan menjadikan trading kripto sebagai tontonan publik ternyata bisa membuka peluang lahirnya genre baru dalam e-sport, lengkap dengan sponsor, liga, dan penggemar setia.
Meski ide ini terdengar segar, pertanyaan besar muncul: apakah format seperti ini bisa berkelanjutan atau hanya jadi hiburan musiman di konferensi blockchain? Selain soal keberlanjutan, tantangan regulasi juga harus diperhitungkan. Trading yang dijadikan kompetisi terbuka bisa memicu kekhawatiran soal manipulasi pasar maupun risiko etika.
Korea Selatan Perketat Aturan Kripto di Tengah Inovasi Baru
Di sisi lain, perkembangan unik ini hadir ketika pemerintah Korea Selatan sedang sibuk dengan regulasi kripto. CNF melaporkan bahwa Partai Demokrat Korea membentuk gugus tugas khusus untuk menyatukan lima rancangan undang-undang stablecoin menjadi satu regulasi terpadu.
Bank of Korea pun menegaskan stablecoin won harus diperkenalkan secara bertahap lewat bank, agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Bukan cuma itu, pertengahan Agustus lalu otoritas Korea Selatan secara tegas melarang layanan pinjaman kripto. Alasannya sederhana, karena belum ada dasar hukum yang resmi untuk melindungi pengguna.
Akibat kebijakan tersebut, sekitar 13% peminjam kripto lokal sudah terlikuidasi karena terpukul volatilitas pasar dan ketiadaan aturan yang jelas saat itu.
Situasi ini memperlihatkan betapa cepatnya pemerintah bergerak menutup celah, meskipun di saat bersamaan komunitas justru menghadirkan inovasi yang membuat publik terkagum-kagum.

