- Kazakhstan meluncurkan pilot project pembayaran biaya regulasi dengan stablecoin USDT dan USDC melalui AFSA di Astana.
- Skema stablecoin menekan biaya hingga 90% dan mempercepat transaksi 70% dibanding metode pembayaran tradisional.
Kazakhstan kembali mencuri perhatian dunia kripto setelah otoritas keuangannya, Astana Financial Services Authority (AFSA), meluncurkan program percontohan yang memperbolehkan penggunaan stablecoin untuk pembayaran biaya regulasi.
Keputusan ini diumumkan dalam gelaran Astana Finance Days 2025 dan langsung menjadi sorotan karena menjadikan negara Asia Tengah itu sebagai salah satu pionir dalam memanfaatkan stablecoin di sektor publik.
Bybit Kazakhstan tercatat sebagai pihak pertama yang menandatangani nota kesepahaman dengan AFSA guna menjalankan mekanisme ini.
Skemanya cukup jelas: penyedia layanan aset digital (DASP) berlisensi akan menerima stablecoin seperti USDT dan USDC, kemudian menukarkannya ke mata uang fiat sebelum akhirnya disetor ke rekening AFSA. Cara ini diharapkan bisa memangkas proses panjang yang biasanya ditemui dalam pembayaran tradisional.
Lebih Efisien dan Transparan
Yang membuat langkah ini menarik, bukan hanya keberanian regulator memberi ruang pada stablecoin, melainkan juga manfaat praktis yang ditawarkan.
Menurut pengumuman resmi, penggunaan stablecoin berpotensi memangkas biaya transaksi hingga 90% serta mempercepat penyelesaian pembayaran sampai 70%. Teknologi yang dipakai termasuk dompet khusus stablecoin untuk penagihan dan QR Pay dari Bybit, yang dirancang agar proses lebih sederhana sekaligus transparan.
Bukan cuma itu, pendekatan ini juga memberikan kenyamanan ekstra bagi perusahaan yang terbiasa memegang aset digital dalam neraca keuangan mereka.
Dengan stablecoin sebagai opsi pembayaran resmi, tidak perlu lagi konversi manual yang sering memakan waktu. Sebaliknya, alurnya menjadi lebih cepat sekaligus terjamin sah karena tetap masuk ke rekening bank otoritas.
Namun demikian, langkah Kazakhstan bukan berarti tanpa kontrol. Semua transaksi stablecoin yang digunakan tetap diwajibkan melalui DASP berlisensi, sehingga ada pengawasan ketat agar tidak disalahgunakan. Artinya, inovasi hadir berdampingan dengan kepatuhan hukum.
Langkah Strategis Kazakhstan di Dunia Kripto
Di sisi lain, kebijakan ini bukanlah upaya pertama Kazakhstan dalam memperkuat posisi di sektor aset digital. Agustus lalu, CNF melaporkan bahwa negara ini menjadi yang pertama di Asia Tengah yang meluncurkan ETF Bitcoin spot berbasis aset fisik.
ETF bernama Fonte Bitcoin itu diperdagangkan di Astana International Exchange dengan regulasi dari AIFC. Kehadiran produk tersebut mempertegas niat Kazakhstan menjadikan pusat keuangannya sebagai magnet bagi investor global.
Lebih lanjut lagi, bila menengok ke belakang, otoritas Kazakhstan pada 2024 sempat menindak tegas aktivitas ilegal di sektor kripto.
Mereka memblokir lebih dari 3.500 bursa kripto tanpa izin, membongkar 36 platform yang beroperasi di luar hukum, menyita 4,8 juta USDT, serta mengekang omset senilai lebih dari US$113 juta. Langkah keras ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga serius menegakkan aturan.
Dengan kombinasi antara regulasi ketat dan keberanian membuka pintu bagi stablecoin, Kazakhstan tampaknya ingin mengirim pesan jelas ke pasar global: mereka siap menjadi pusat finansial digital yang relevan.
Jadi, wajar bila banyak yang melihat inisiatif stablecoin ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat peran Astana International Financial Centre.

