- Hyperliquid kini menguasai 80% volume DEX perpetual, menegaskan dominasinya di sektor derivatif kripto.
- Dukungan cross-chain dan ETP institusional memperkuat posisi Hyperliquid mendekati kualitas bursa kripto terpusat.
Hyperliquid kembali mencuri perhatian setelah menguasai sekitar 80% pasar DEX perpetual, sebuah capaian yang membuat banyak orang terkejut. Platform ini bahkan mencatat rasio volume perdagangan terhadap Binance sebesar 13,6%, melonjak dari 8% di awal tahun.
Hyperliquid now commands around 80% of perpetual DEX volume, with its volume ratio to Binance rising to 13.6% from 8% earlier this year. It has processed over $200 billion in trades, with cross-chain deposits — including Bitcoin — cited as a key growth driver, helping it match…
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) August 29, 2025
Hyperliquid Perkuat Daya Saing Lewat Cross-Chain dan Likuiditas
Data tersebut menunjukkan bagaimana pertumbuhan cepat Hyperliquid mampu mendekatkan kualitas bursa terdesentralisasi dengan bursa tradisional yang sudah mapan. Lebih menarik lagi, total volume perdagangan yang berhasil diproses sejak 2023 kini menembus US$2,07 triliun, dengan rata-rata transaksi harian melampaui US$8 miliar.
Di sisi lain, faktor cross-chain terbukti menjadi penggerak besar. Hyperliquid menghadirkan kemudahan deposit lintas jaringan, termasuk Bitcoin, sehingga likuiditas di dalam platform tidak lagi terasa terbatas.
Awal Agustus lalu, CNF melaporkan bahwa Circle telah meluncurkan USDC native dan CCTP V2 di Hyperliquid, yang memudahkan transfer antar blockchain tanpa harus memakai wrapped token. Alhasil, arus masuk USDC versi native melonjak drastis dan membawa nilai AUM Hyperliquid ke kisaran US$5,5 miliar. Lonjakan ini mempertegas posisi Hyperliquid sebagai pemain kunci di sektor derivatif kripto.
Dukungan Institusional dan Persaingan yang Makin Ketat
Namun demikian, cerita Hyperliquid bukan hanya soal volume besar. Pada 31 Agustus 2025, 21Shares resmi memperkenalkan ETP Hyperliquid di SIX Swiss Exchange. Produk ini memungkinkan investor institusional mendapat eksposur ke Hyperliquid tanpa perlu repot mengelola dompet kripto atau melakukan kustodi on-chain.
Dengan adanya jalur baru ini, Hyperliquid semakin merapat ke ranah finansial tradisional, sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak institusi untuk ikut ambil bagian di DEX.
Lebih lanjut lagi, ada sisi menarik lain yang tak bisa diabaikan. Meski hanya dijalankan oleh 11 karyawan, Hyperliquid berhasil mencatat volume perdagangan sebesar US$330,8 miliar dalam tiga bulan terakhir, bahkan melampaui capaian Robinhood.
Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan: bagaimana tim sekecil itu bisa mengungguli perusahaan besar dengan sumber daya jauh lebih banyak? Bukan cuma itu, isu regulasi tetap menjadi bayangan yang terus mengikuti langkah Hyperliquid.
Pemerintah di berbagai negara belum memberikan kejelasan penuh terkait aturan DEX, dan inilah titik rawan yang masih harus dihadapi.
Selain regulasi, ada juga faktor persaingan. Nama besar seperti Google dan Stripe mulai menunjukkan ketertarikan mereka pada ruang DeFi. Kehadiran raksasa teknologi ini bisa menjadi tantangan baru, apalagi jika mereka masuk dengan strategi agresif.
Walaupun begitu, daya tarik Hyperliquid tetap sulit ditampik. Likuiditas yang menyerupai CEX, pengalaman pengguna yang mulus, hingga fitur cross-chain yang efisien membuatnya semakin digemari oleh trader.
Jika dilihat dari tren, dominasi 80% Hyperliquid di sektor DEX perpetual tampak bukan sekadar momentum sesaat. Kinerja yang konsisten, inovasi produk, serta dukungan institusional melalui ETP membuka jalan untuk memperluas pengaruhnya.
Pertanyaan terbesar kini adalah apakah Hyperliquid bisa mempertahankan dominasinya ketika regulasi mulai mengetat dan kompetitor raksasa benar-benar turun ke gelanggang.

