- ECB mulai mempertimbangkan blockchain publik seperti Ethereum dan Solana untuk peluncuran euro digital.
- Privasi pengguna dan tekanan regulasi jadi alasan utama pengembangan euro digital berbasis blockchain.
Bank Sentral Eropa (ECB) mulai mempertimbangkan dua blockchain publik yang cukup popular, Ethereum dan Solana, sebagai pondasi teknologi untuk proyek euro digital yang sudah lama dinantikan, berdasarkan laporan Financial Times.
Ini cukup mengejutkan, mengingat selama ini pendekatan ECB lebih condong pada sistem tertutup yang mereka kontrol sendiri. Tapi kelihatannya, tekanan geopolitik dan dominasi teknologi finansial dari luar Eropa membuat mereka mulai membuka diri terhadap model yang lebih terbuka.
Ketakutan Akan Dominasi Dolar Dorong ECB Ubah Haluan
Keputusan ini bukan tanpa latar belakang. Regulasi stablecoin di Amerika Serikat yang baru-baru ini disahkan melalui GENIUS Act telah menjadi pemicu kekhawatiran. Bayangkan saja, stablecoin berbasis dolar kini sudah bernilai ratusan miliar dan bisa mencapai US$2 triliun pada 2028.
Bukan cuma itu, penerbitannya yang dilakukan secara swasta dikhawatirkan bakal mengikis kekuatan moneter negara-negara lain, termasuk zona euro. Dan kalau itu terjadi, stabilitas ekonomi Eropa juga bisa ikut-ikutan goyah.
Makanya, ECB mulai buka opsi. Alih-alih hanya mengandalkan teknologi yang mereka kontrol secara penuh, kini mereka mulai melirik opsi di mana euro digital bisa eksis di jaringan yang lebih umum digunakan. Ethereum dan Solana masuk radar karena keduanya sudah teruji di industri kripto, punya ekosistem besar, dan dianggap mampu menangani transaksi dalam skala besar.
Namun demikian, ide ini juga memunculkan debat baru. Blockchain publik itu kan transparan, jadi semua transaksi bisa dilihat siapa saja. Ini jelas memunculkan masalah privasi.
Karena itu, sempat muncul opsi bahwa euro digital di blockchain publik akan dibungkus dalam bentuk token (wrapped) dan hanya bisa digunakan lewat perantara seperti bank atau kustodian. Jadi ya, transparan iya, tapi tetap ada filter kontrol dari otoritas.
Stabilitas Moneter Eropa Diuji di Tengah Serbuan Stablecoin
Lebih lanjut lagi, wacana ini juga tidak lepas dari tensi antara ECB dan lembaga lain di Uni Eropa. Bulan April lalu, ECB sempat mengkritik keras pemerintah AS karena dianggap terlalu memberi angin ke industri kripto. Mereka khawatir ini akan menimbulkan efek domino di pasar keuangan global.
ECB bahkan meminta agar regulasi di Uni Eropa segera direvisi biar nggak ketinggalan langkah. Sayangnya, Komisi Eropa tidak sepakat. Mereka bilang ECB terlalu berlebihan dan tidak memahami inti aturan yang baru. Jadi, bukannya solid, malah saling silang pendapat.
Tekanan pun makin bertambah awal Agustus lalu, ketika ECB, Bank of England, dan BIS secara terbuka menyatakan kekhawatiran terhadap lonjakan stablecoin yang dinilai bisa mengganggu peta kekuatan ekonomi dunia. Apalagi stablecoin berbasis dolar. Udah jelas siapa yang paling diuntungkan dari tren itu.
Meski pembahasan euro digital masih dalam tahap awal, ECB menargetkan kerangka hukum bisa rampung pada 2026. Tapi proses implementasinya jelas nggak bisa instan. Perkiraan kasarnya, peluncuran baru bisa terjadi dua sampai tiga tahun setelah aturan final disepakati. Jadi mungkin sekitar 2028 atau 2029 baru terasa dampaknya.
Apakah euro digital nanti benar-benar akan hidup di blockchain seperti Ethereum atau Solana? Belum ada jawaban pasti. Tapi satu hal jelas: ECB mulai sadar bahwa mereka nggak bisa lagi main aman di zona nyaman. Dunia keuangan bergerak cepat, dan kalau nggak ikut menyesuaikan, euro bisa jadi cuma penonton di panggung digital global.

