- Coinbase mendapat izin New York untuk layanan staking, kini tersedia di 46 negara bagian AS.
- Langkah ini dinilai sebagai preseden regulasi penting bagi masa depan staking kripto di AS.
Coinbase resmi meluncurkan layanan staking kripto di New York setelah mendapat persetujuan dari otoritas negara bagian.
Dengan langkah ini, penduduk New York akhirnya bisa ikut berpartisipasi dalam staking aset popular seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) langsung melalui aplikasi Coinbase. Persetujuan tersebut sekaligus membuat New York sejajar dengan 46 negara bagian lain yang sudah lebih dulu mengizinkan layanan serupa.
Oh hey New York, welcome to the party.
Crypto staking is now live in NY. And still live in 45 other states too. pic.twitter.com/IlD9SXBaWf
— Coinbase 🛡️ (@coinbase) October 8, 2025
Peluncuran ini cukup menarik perhatian karena selama bertahun-tahun New York dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aturan kripto paling ketat. Otoritas keuangan setempat cenderung berhati-hati dalam mengizinkan produk berbasis imbal hasil.
Namun demikian, keputusan kali ini memberi sinyal bahwa pendekatan regulasi di New York mulai membuka ruang lebih luas bagi inovasi kripto. Tidak sedikit pelaku industri yang melihat langkah ini sebagai momen penting bagi Coinbase.
Regulasi, Sengketa, dan Perubahan Sikap
Coinbase sendiri tidak asing dengan persoalan hukum. Beberapa waktu lalu, perusahaan harus berhadapan dengan gugatan dari otoritas federal terkait layanan staking yang sempat dituduh menyerupai penawaran sekuritas.
Meski begitu, situasi berubah pada awal tahun ketika regulator memutuskan menarik kembali sebagian tuntutan.
Di sisi lain, Coinbase menegaskan bahwa mayoritas negara bagian tidak lagi menolak layanan staking mereka. Hanya beberapa wilayah saja, seperti California atau New Jersey, yang masih belum memberi lampu hijau penuh.
Lebih lanjut lagi, perusahaan juga memberi jaminan bahwa pengguna bisa merasa lebih tenang. Coinbase menekankan tidak ada catatan kerugian aset dari staking melalui platform mereka. Walau begitu, risiko teknis tetap ada, misalnya keterlambatan saat proses un-staking atau gangguan dari validator blockchain.
Coinbase mencoba menampilkan transparansi penuh mengenai hal tersebut sehingga pengguna bisa memahami kondisi dengan jelas sebelum ikut serta.
Bukan cuma itu, persetujuan dari New York bisa menjadi contoh bagi negara bagian lain yang masih ragu. Kalau salah satu yurisdiksi dengan aturan paling ketat saja sudah melunak, tentu ada peluang negara bagian lain bakal mengikuti.
Dan bila tren itu benar-benar terjadi, industri kripto di AS mungkin akan mendapat fondasi regulasi yang lebih stabil.
Ekspansi Coinbase dan Jejak Kemitraan
Langkah Coinbase di New York tidak bisa dipisahkan dari strategi lebih besar yang sedang mereka jalankan. Juni lalu, seperti yang pernah kami soroti, perusahaan ini memperluas kiprahnya dari sekadar bursa kripto menjadi layanan keuangan menyeluruh.
Mereka mulai merancang produk baru dan membangun kemitraan strategis untuk mempercepat adopsi kripto dalam kehidupan sehari-hari. Fokusnya jelas, membuat kripto tidak hanya jadi instrumen investasi, tapi juga sarana transaksi dan layanan finansial yang praktis.
Di sisi lain, CNF melaporkan pada akhir Juli bahwa Coinbase juga menggandeng JPMorgan Chase dalam kolaborasi besar. Kemitraan itu akan memudahkan jutaan nasabah Chase untuk mengakses kripto secara langsung.
Menariknya, poin reward yang biasanya hanya bisa dipakai untuk belanja, kini bisa ditukar menjadi stablecoin USDC dan bahkan digunakan membeli kripto lewat kartu kredit. Kerja sama ini menunjukkan bahwa Coinbase tidak bermain sendiri, mereka berusaha merangkul raksasa perbankan tradisional untuk mendorong penggunaan kripto di arus utama.

