- Kemitraan Coinbase dan JPMorgan Chase mudahkan jutaan nasabah akses langsung ke aset kripto.
- Nasabah Chase bisa tukar poin reward menjadi USDC dan beli kripto lewat kartu kredit.
Coinbase dan JPMorgan Chase belakangan ini bikin langkah yang cukup bikin banyak orang mengernyitkan dahi—bukan karena aneh, tapi karena ternyata mereka bisa juga kerja bareng. Di tengah hubungan yang dulunya agak dingin, kini keduanya justru membentuk kolaborasi yang membuka akses kripto ke jutaan nasabah Chase di Amerika dan luar negeri.
We're partnering with @Chase to accelerate crypto adoption.
Coming soon:
→ Use Chase credit cards on Coinbase
→ Redeem rewards points for USDC
→ Directly link Chase accounts to CoinbaseBridging tradfi to crypto. pic.twitter.com/ObxIaMWI3J
— Coinbase 🛡️ (@coinbase) July 30, 2025
Nasabah Chase Bisa Beli Kripto Langsung, Gak Pake Ribet Lagi
Dimulai pada musim gugur 2025, nasabah Chase bakal bisa beli aset kripto langsung dari platform Coinbase hanya dengan kartu kredit mereka. Praktis, cepat, dan ya, akhirnya bank besar kayak Chase benar-benar ikut turun ke dunia kripto dengan cara yang terasa nyata. Sebelumnya, transaksi semacam ini sering terhambat oleh sistem internal bank atau malah dilarang sama sekali.
Tapi yang bikin mata makin melirik adalah rencana lanjutan mereka di tahun 2026. Nantinya, pengguna bisa menukar poin Chase Ultimate Rewards menjadi USDC. Rasio penukarannya lumayan fair—100 poin buat 1 dolar.
Dan dana itu langsung masuk ke dompet berbasis jaringan Base, ekosistem blockchain yang dikembangkan Coinbase. Ada potensi besar buat mengubah cara masyarakat umum melihat loyalti poin: dari barang konsumtif jadi aset digital.
Selain itu, ada juga fitur koneksi langsung antara akun bank Chase dan Coinbase. Artinya, transfer dana bisa dilakukan tanpa perlu pihak ketiga kayak Plaid. Satu langkah kecil buat sistem backend, tapi lompatan besar buat pengguna yang selama ini ogah ribet urusan sambung-menyambung akun.
Banyak analis menyebut ini langkah besar JPMorgan ke arah adopsi penuh aset digital. Bahkan ada proyeksi valuasi dari bisnis stablecoin USDC yang mencapai US$60 miliar, dengan margin keuntungan bersih bisa sampai 25%. Cukup menggiurkan, apalagi kalau semua berjalan mulus dan respons pasar sesuai harapan.
Dari Riot Games ke Opyn, Coinbase Lagi Sibuk Banget
Sementara kerja sama dengan Chase menyedot banyak sorotan, Coinbase diam-diam juga memperluas pengaruhnya ke dunia lain. Bulan Mei kemarin, perusahaan ini resmi jadi mitra global untuk seluruh event esports milik Riot Games, mulai dari League of Legends sampai VALORANT.
Nah, kalau biasanya penonton cuma duduk manis sambil nonton pertandingan, sekarang mereka bisa dapat hadiah digital dan analisis langsung dari dalam platform Coinbase. Lumayan, kan? Nonton sambil nambah aset digital.
Di sisi lain, CNF sempat mengungkap bahwa Coinbase merekrut dua figur utama dari Opyn: CEO dan kepala risetnya. Menariknya, akuisisi ini nggak menyangkut protokol atau aset Opyn, hanya sebatas mengamankan “otak-otak utamanya” saja. Fokusnya lebih ke pengembangan derivatif on-chain, sesuatu yang memang masih jarang disentuh pemain besar secara serius.
Gabungan dari semua manuver ini membuat Coinbase terlihat seperti sedang membangun peta kekuatan baru. Mereka nggak cuma duduk di satu sudut pasar kripto, tapi mulai merambah berbagai sektor—dari lembaga keuangan tradisional, komunitas gamer, sampai insinyur derivatif. Tujuannya kelihatan jelas: jadi pintu utama buat siapa pun yang mau nyemplung ke dunia kripto, tanpa harus paham teknikal berlapis-lapis.
Kalau JPMorgan Chase sebagai bank raksasa saja udah mau kerja bareng Coinbase, mungkin pertanyaannya sekarang bukan “apakah kripto bakal diterima umum?” tapi lebih ke “berapa cepat semuanya bakal berubah?”

