- CEO Stripe menilai stablecoin berimbal hasil akan memaksa bank memberi suku bunga simpanan lebih kompetitif.
- Co-founder Tether memprediksi semua mata uang, termasuk fiat, akan berbentuk stablecoin berbasis blockchain pada 2030.
Prediksi bahwa pada tahun 2030 semua mata uang akan hadir dalam bentuk stablecoin memang terdengar berani, tapi wajar jika semakin banyak pihak mulai membicarakannya.
Reeve Collins, salah satu pendiri Tether, meyakini bahwa tidak hanya dolar, euro, atau yen, tapi hampir semua mata uang bisa bertransformasi menjadi stablecoin. Baginya, stablecoin bukan sekadar tambahan dalam ekosistem kripto, melainkan cerminan dari fiat yang dipindahkan ke jalur blockchain dengan kecepatan transaksi dan transparansi yang lebih sulit ditolak oleh siapa pun.
Stablecoin Jadi Pusat Perhatian Global
CEO Stripe, Patrick Collison, juga menambahkan warna dalam diskusi ini. Menurutnya, kehadiran stablecoin yang menawarkan imbal hasil bisa menjadi ancaman serius bagi bank tradisional.
Saat tabungan di AS hanya memberi bunga 0,40% dan di Eropa lebih rendah lagi di 0,25%, wajar jika yield-bearing stablecoin dipandang lebih menggoda. Bank pun pada akhirnya harus menyesuaikan diri, atau risiko ditinggalkan nasabah menjadi lebih besar.
Good post on evolving stablecoin market structure. I would extend it further: yes, I think that stablecoin issuers are going to have to share yield with others, but this is just one instance. Everyone is going to have to share yield. Today, the average interest on US savings… https://t.co/yjjLOzxoOk
— Patrick Collison (@patrickc) October 3, 2025
Namun demikian, Collison mengingatkan bahwa bank-bank juga tidak tinggal diam. Kelompok lobi perbankan pernah menentang keras gagasan stablecoin berbunga saat pembahasan regulasi GENIUS Act, dengan alasan hal itu bisa menggoyahkan fondasi sistem keuangan tradisional.
Di sisi lain, pasar terus bergerak. CNF sebelumnya mencatat bahwa SoFi akan merilis stablecoin baru yang dijamin penuh dolar AS dengan cadangan di rekening Federal Reserve.
roduk ini tak hanya berhenti di penerbitan token, tetapi juga dilengkapi layanan trading, staking, pinjaman kripto, hingga pengiriman uang lintas negara. Jika langkah seperti ini berlanjut, stablecoin akan semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari pengguna.
Bukan cuma itu, awal Oktober lalu Tether juga memperkenalkan stablecoin baru bernama USAT lewat Rumble. Token tersebut diposisikan khusus untuk pasar Amerika Serikat, didukung oleh Anchorage Digital Bank, dan dijanjikan patuh pada aturan yang berlaku. Gerakan ini mempertegas arah bahwa stablecoin kini masuk ke jalur yang lebih regulatif dan terstruktur.
Regulasi Jadi Faktor Penentu
Meski optimisme terus bertumbuh, sejumlah lembaga internasional justru mengingatkan risiko. Bank for International Settlements (BIS) menyoroti bahaya ketika stablecoin mengalami tekanan likuiditas. Bayangkan saja, jika aset dasar dilepas besar-besaran saat pasar panik, stabilitas bisa runtuh dalam hitungan jam.
Bank Sentral Eropa juga menyuarakan kegelisahan, terutama pada dominasi stablecoin berbasis dolar yang bisa melemahkan peran euro dalam kebijakan moneter. Bahkan, Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, menegaskan stablecoin yang digunakan secara luas untuk pembayaran wajib diawasi dengan aturan yang sama ketatnya seperti uang.
Lebih lanjut lagi, kajian akademis terbaru membayangkan masa depan moneter yang hibrida. Artinya, stablecoin swasta, mata uang digital bank sentral (CBDC), dan fiat tradisional akan berjalan berdampingan. Skenario ini dianggap lebih realistis ketimbang dunia yang sepenuhnya dikuasai stablecoin.
Meski begitu, tren menuju digitalisasi uang sulit dibantah. Jika adopsi terus berlanjut, pertanyaan yang tersisa bukan lagi “apakah semua mata uang akan jadi stablecoin,” tapi “seberapa cepat peralihan itu akan terjadi.”

