- Pendapatan Bithumb naik 35% berkat tingginya aktivitas perdagangan aset digital.
- Laba bersih turun drastis akibat biaya promosi dan penurunan nilai aset kripto.
Awal tahun ini, Bithumb mencatat pendapatan yang bikin banyak orang mengangkat alis: KRW 329,2 miliar atau sekitar US$239 juta. Naik sekitar 35% dibanding paruh pertama tahun lalu. Tapi tunggu dulu—meskipun angka itu terdengar manis, ternyata cerita lengkapnya tidak sesederhana itu.
Di balik lonjakan pendapatan tersebut, ada penurunan laba yang lumayan tajam. Laba operasional mereka turun 5,7% ke angka KRW 90,1 miliar, dan yang lebih mengejutkan, laba bersih mereka jeblok 46,5% menjadi hanya KRW 55 miliar.
Di Balik Angka Besar, Ada Biaya yang Mengintai
Apa yang terjadi? Salah satu penyebab utama adalah strategi ‘manfaat pengguna’ yang mereka jalankan sejak akhir tahun lalu. Program ini memang bisa mendorong pertumbuhan pengguna, tapi biayanya tidak kecil. Selain itu, Bithumb juga harus mencatat kerugian dari penurunan nilai aset kripto yang mereka miliki. Kombinasi ini membuat keuntungan bersih mereka tergerus, walau secara bisnis tampak sehat dari luar.
Masih ingat saat Bithumb sempat bangkit di tahun lalu? Pada 2024, mereka berhasil membukukan pendapatan tahunan sekitar KRW 496,3 miliar dan mencetak laba bersih US$110 juta.
Waktu itu, banyak yang memuji strategi pemulihan mereka setelah masa-masa sulit sebelumnya. Tapi ternyata, mempertahankan performa tersebut tidak semudah membalikkan tangan, terutama di tengah volatilitas pasar dan tekanan dari biaya internal yang terus naik.
Bithumb Antara Restrukturisasi dan Tuduhan Lama
Yang menarik, di sisi lain, CNF pernah melaporkan bahwa pada 31 Juli 2025, Bithumb telah merampungkan restrukturisasi besar-besaran untuk memisahkan unit bisnis non-perdagangan mereka. Mereka sedang bersiap menuju IPO dan perlu menata ulang struktur agar lebih ramping dan fokus. Di tengah persaingan sengit industri kripto Korea Selatan, ini bisa jadi keputusan penting untuk bertahan dalam jangka panjang.
Namun demikian, Bithumb belum sepenuhnya lepas dari sorotan. Pada Maret lalu, kantor pusat mereka sempat digeledah oleh pihak kejaksaan. Masalahnya? Dugaan penggunaan dana perusahaan sebesar 3 miliar won—sekitar US$2 juta—untuk menyewa apartemen mewah yang ditinggali oleh mantan CEO mereka, Kim Nam-kuk.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, dan tentu saja menimbulkan tanda tanya di kalangan publik maupun investor. Bukan cuma itu, pada bulan yang sama, mereka mencetak laba operasional US$89 juta setelah sebelumnya mengalami kerugian cukup dalam. Jadi, bisa dibilang Maret 2025 adalah bulan yang penuh campur aduk bagi perusahaan ini.
Meski banyak yang mempertanyakan arah perusahaan, langkah-langkah penataan ulang dan fokus pada IPO memberi kesan bahwa Bithumb masih punya ambisi besar. Tantangannya sekarang bukan sekadar angka pendapatan, tapi bagaimana menjaga kepercayaan pasar sembari menavigasi badai internal.
Lebih lanjut lagi, kondisi ini mencerminkan realita industri kripto secara keseluruhan. Naik turunnya harga, tekanan regulasi, dan ketatnya persaingan membuat margin keuntungan bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Bagi Bithumb, tahun ini tampaknya jadi ujian tersendiri—mampukah mereka mengubah lonjakan pendapatan jadi fondasi pertumbuhan jangka panjang, atau akan terus diganggu oleh masalah internal yang belum tuntas?

