- Thailand sedang merancang skema agar wisatawan bisa belanja menggunakan kripto yang ditautkan ke kartu kredit mereka.
- Skema ini tetap menjaga kenyamanan pedagang lokal karena pembayaran akan dikonversi otomatis ke baht.
Menteri Keuangan Thailand, Pichai Chunhavajira, baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan program percontohan yang memungkinkan wisatawan asing menautkan aset kripto mereka ke kartu kredit. Menurut laporan Bangkok Post, nantinya, para turis bisa belanja atau bayar layanan lokal seperti biasa, tanpa perlu repot tukar uang atau konversi manual.
Bayar Pakai Kripto, Terima Baht: Skema Baru Buat Turis Asing
Coba bayangkan kalau kamu bisa ngopi di kafe pantai Phuket atau belanja oleh-oleh di pasar Chiang Mai pakai aset digital yang kamu simpan di dompet kripto, semua itu tetap dikonversi ke baht buat pedagang. Skema ini memang belum berlaku, tapi rencana ini sedang serius dibicarakan dengan Bank of Thailand agar nantinya tetap aman dan sesuai regulasi.
Menariknya lagi, pendekatan Thailand ini dirancang supaya para pelaku usaha lokal tetap nyaman. Mereka tak perlu tahu transaksi yang masuk berasal dari kripto. Bagi mereka, yang penting dana masuk ke rekening. Sedangkan di balik layar, sistem akan bekerja seperti jembatan yang menghubungkan teknologi baru dengan sistem pembayaran tradisional.
Lebih dari Sekadar Wacana, Thailand Sudah Mulai Bergerak
Namun demikian, rencana ini bukan berdiri sendirian. Pada 13 Mei 2025, Chunhavajira juga mengumumkan bahwa pemerintah akan menerbitkan token digital senilai sekitar 5 miliar baht (sekitar Rp2,47 triliun). Pemerintah akan menggunakannya untuk menutup defisit anggaran negara, dengan menerbitkannya di bawah kerangka utang publik.
Namanya G-Token, dan SEC Thailand sudah menetapkan bahwa token ini hanya boleh diperdagangkan di bursa aset digital berlisensi. Jadi bukan buat beli es teh manis atau ikut trading spekulatif.
Di sisi lain, CNF sebelumnya melaporkan bahwa pada Februari lalu, Thailand Digital Investment Committee (TIDC) menunjuk dua nama besar, Tekin Salimi dan Rushi Manche, sebagai penasihat strategis.
Mereka ingin memperkuat ekosistem blockchain di Thailand dan menjadikan negara ini sebagai magnet investasi di sektor digital. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan posisi Thailand di arena teknologi keuangan regional.
Lebih lanjut lagi, pernyataan terbaru dari CEO SCB 10X, Kaweewut Temphuwapat, juga ikut menegaskan arah angin Thailand. Menurutnya, kombinasi antara regulasi yang makin jelas dan geliat inovasi fintech akan jadi pemicu kuat masuknya arus investasi kripto ke Asia Tenggara. Thailand, dalam hal ini, berada di posisi yang cukup strategis untuk mengambil peran utama.
Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin Thailand akan jadi salah satu negara yang paling ramah terhadap turis kripto. Bayangkan kalau cara bayar kamu bukan lagi uang tunai atau kartu debit, tapi langsung dari dompet kripto ke layanan lokal, dan tetap terintegrasi dengan sistem nasional.

